Showing posts with label pertama diindonesia.. Show all posts
Showing posts with label pertama diindonesia.. Show all posts

Tuesday, August 8, 2017

Ketika Ayah Meninggal, Ibu Harus Bilang Apa ke Anak Balita?

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta,GARASIhealth - Putra sulung pria yang meninggal usai dibakar hidup-hidup oleh warga di Bekasi, M Alzahra alias Joya (35), masih sulit melupakan sosok ayahnya sepekan kepergian almarhum.

Bocah 4 tahun bernama Alif itu kerap menanyakan keberadaan sang ayah yang sudah tiada.

"Yang dia tahu kan, kalau sudah sore ayahnya sudah pulang ke rumah. Kalau sudah sore, dia nyariin terus. 'Abi mana, Abi mana? Abi kok enggak olat (salat)'," kata ibu Alif, Siti Jubaida menirukan ucapan putranya.

Jubaida mengaku sering tidak mudah menjawab pertanyaan sang anak yang terus mencari ayahnya. Semasa masih hidup, Alif dan Joya memang sering solat bersama di musala dekat rumah mereka.

Menurut psikolog, Jovita Ferliana, anak usia empat tahun memang sudah bisa merasa kehilangan ketika salah satu orangtuanya meninggal. Apalagi bila anak tersebut sering atau setiap hari bersama sang ayah.

"Sudah, dia sudah bisa merasakan kehilangan itu," kata Jovita.

Saat anak menanyakan keberadaan ayah yang sudah meninggal, orang dewasa yang berada di sekitar anak sebaiknya menjawab dengan jujur bahwa ayah sudah tidak ada. Tidak perlu membohongi anak.

"Orangtua harus memberitahu yang benar, kalau membohongi anak. Itu bisa berakibat fatal, karena kalau tahu dari orang lain, dia akan kehilangan kepercayaan pada figur yang membohongi itu," kata Jovita saat dihubungi GARASIhealth pada Senin (7/8/2017).

Katakan kepada anak bahwa ayah atau orang yang ditanyakan sudah meninggal. Lalu, ajak  anak berdoa yang terbaik untuk sosok yang sudah tiada tersebut.

"Intinya jawab sesuai pertanyaan anak. Jika anak tidak bertanya lagi, tidak perlu dijelaskan," pesan Jovita.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Monday, August 7, 2017

Berenang Bisa Tingkatkan Rasa Percaya Diri Anak

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta,GARASIhealth - Berenang merupakan olahraga air yang menyenangkan, selain si Kecil dapat bermain air dan mempelajari berbagai gaya renang. Berenang termasuk olahraga aktivitas fisik terbaik bagi anak.

Para ahli mengatakan bahwa anak-anak dapat memulai pelajaran kesiapan akuatik atau teknik aklimasi air dan pra berenang pada usia 15 sampai 18 bulan, diikuti oleh teknik belajar dan pengembangan gerak pada usia empat tahun.

Maana Patel dari Team Speedo adalah salah satu dari anak-anak yang belajar renang pada usia 8 dan pada usia 15, dia menjadi perenang wanita pertama yang mengantongi medali emas di Kejuaraan Grup Asia, Bangkok. Inilah manfaat olahraga renang bagi anak. Seperti yang dilansir dari laman GARASIhealth, Senin (7/8/2017).

1. Meningkatkan kepercayaan diri

Mengikuti lomba renang akan membuat keterampilan renang semakin bertambah. Berenang juga dapat membantu anak membangun kepercayaan diri, tetap bugar dan lebih berorientasi pada target.

2. Membangun stamina

Bagi anak-anak dan remaja yang sering menghabiskan waktu di depan ponsel, tablet atau layar TV, berenang jadi aktivitas utama untuk menyeimbangkan kebiasaan tersebut. Berenang merupakan aktivitas outdoor yang membuat olahraga terasa lebih mudah karena daya apung air.
Berada di air mengurangi berat badan kita hingga hampir 90 persen, dan karenanya terbukti menjadi latihan membangun stamina yang hebat dibandingkan dengan aktivitas lainnya.

3. Latihan kardio yang baik

Berenang juga mengaktifkan otot-otot di tubuh. Bagi anak-anak, sesi berenang yang baik juga dapat meningkatkan nafsu makan. Berenang dapat membuat tidur lebih nyenyak, pikiran rileks dan manfaat kesehatan.

4. Menguasai teknik penyelamatan hidup

Berenang bukan hanya hobi atau sekadar olahraga, ini adalah keterampilan yang menyelamatkan nyawa. Belajar berenang di usia dini, dan mengetahui teknik berenang yang tepat dapat membuat anak menghadapi situasi tenggelam yang tidak terduga.

Sunday, August 6, 2017

Dokter Jiwa: Lansia Rentan Depresi

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta,GARASIhealth - Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Tedy Hidayat, menyatakan, orang yang berusia 60 tahun ke atas, atau sering disebut lansia, rentan terpapar gangguan kejiwaan.

Menurut Tedy Hidayat, sejumlah gangguan jiwa yang sering terjadi terhadap lansia, yaitu hilangnya kepercayaan diri, diikuti dengan peningkatan emosi yang sering disebut depresi.

"Yang pertama adalah depresi pada usia lanjut yang kedua demensia atau pikun. Nah, kalau yang depresi pada usia lanjut biasanya berhubungan dengan pensiun, pendapatan berkurang, biasanya menduduki jabatan bahkan dihormati sekarang tidak ada lagi yang menyapa dia, tidak ada lagi yang menelepon dia," ujar Tedy Hidayat di Bandung, ditulis Sabtu (5/8/2017).

Tedy Hidayat mengatakan, beberapa ciri lansia terpapar gangguan jiwa, berupa depresi yaitu sering marah tanpa sebab setiap harinya, berpandangan negatif terhadap suatu masalah dan menyalahkan orang lain.

Tedy menyebutkan, salah satu cara agar lansia tidak terpapar gangguan jiwa adalah dengan meningkatkan kualitas hidup secara kejiwaan dan fisik.

Dia mengatakan dengan adanya indikasi tersebut, sudah saatnya pemegang kebijakan membuat program kota ramah untuk lansia, agar mereka merasa diakui keberadaannya.

Berdasarkan data terakhir dari Dinas Sosial Jawa Barat, pemerintah provinsi tidak memberikan anggaran yang layak untuk kesehatan jiwa. Hal itu disebabkan, kesehatan jiwa bukan termasuk dalam tujuh prioritas pembangunan Jawa Barat.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Saturday, August 5, 2017

Sakit Hati Gebetan Pacaran dengan Orang Lain? Ini Kata Psikolog

foto: bertha/GARASIhealth

Jakarta,GARASIhealth - Pada fase pendekatan atau sering disebut PDKT, sepasang pria dan wanita akan lebih intens dalam berkomunikasi. Komunikasi yang lebih intens pun lama-lama bisa menimbulkan perasaan jatuh cinta.

Jatuh cinta memang perasaan yang menyenangkan dan terkadang kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Namun memang tidak semua berakhir indah, ketika sedang bersemi rasa cinta mungkin saja salah satunya malah menjalin kasih dengan orang lain. Sakit hati?

Menanggapi permasalahan tersebut, psikolog dari Tiga Generasi Sri Juwita Kusumawardhani, MPsi mengatakan bahwa sakit hati ketika memiliki harapan tinggi pada seseorang lalu dikecewakan adalah hal yang wajar.

"Pasti sakit hati sih, kan kitanya juga sudah investasi waktu dan perasaan," ungkapnya kepada GARASIhealth baru-baru ini.

Menyimpan perasaan cinta kepada orang lain bisa menyebabkan kekecewaan karena harapan tidak berbanding lurus dengan kenyataan. "Nah, lain kali set target berapa lama waktu untuk pdkt, kalau sudah lewat deadline, ditanya saja niatnya mau serius berhubungan atau gimana," jelas wanita yang akrab disapa Wita.

Menurut Wita komunikasi yang baik sangat penting dalam suatu hubungan. Bersikap tegas juga sangat diperlukan agar perasaan tidak diremehkan oleh orang lain.

"Kalau kitanya diam saja, si cowok pikir kitanya nggak kenapa-kenapa kalau nggak ada status. Kalau memang cowoknya nggak bisa tegas, kitanya yang harus tegas, cari yang pasti," kata Wita.

Wita juga menyarankan untuk lebih menyayangi diri sendiri ketimbang orang lain agar dipertemukan dengan orang yang tepat dan mampu menyayangi kita.

"Masalahnya mau berapa lama sakit hati? Jangan lama-lama, kita sendiri yang rugi. Dia sudah bahagia sama orang lain, kita masih nangisin dia saja," pungkasnya.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Friday, August 4, 2017

Mengatasi Ketergantungan Obat Penenang, Begini Saran Dokter Jiwa

foto: bertha/GARASIhealth

Jakarta,GARASIhealth - Siapa yang tidak ingin memiliki hidup yang tenang? Semua orang pasti menginginkannya. Namun, masih banyak orang yang mencari ketenangan menggunakan cara yang instan, misalnya dengan mengonsumsi obat penenang ilegal.

Baru-baru ini, pasangan selebritis Tora Sudiro dan Mieke Amalia tertangkap polisi dengan barang bukti 30 butir obat Dumolid atau nitrazepam. Obat tersebut pada umumnya digunakan untuk mengobati insomnia dan sering disalahgunakan untuk mendapatkan efek tenang.

Terkait hal ini, psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, dr Andri SpKJ tidak menganjurkan pakai obat sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan. Sebab setiap hal yang instan, tentu berisiko bagi tubuh.

"Kalau pakai obat Dumolid itu bisa buat orang ketergantungan. Dosis yang dipakai pasti juga pasti nggak sesuai dengan indikasi awal," kata dr Andri saat berbincang dengan GARASIhealth, Kamis (3/8/2017).

Lebih lanjut, dr Andri mengatakan untuk mendapat ketenangan dalam hidup sebenarnya bisa dilakukan dengan hal positif yang sederhana. Misalnya dengan relaksasi atau refreshing.

Namun, dr Andri melanjutkan, masih banyak orang yang tidak memiliki banyak waktu sehingga sulit untuk sekadar relaksasi. Sehingga memilih cara instan itu tadi untuk mencari ketenangan.

"Sibuk nih, nggak bisa pergi ke Bali untuk santai. Nah yang bisa cepet biasanya mikir ke ya minum alkohol, atau yang lebih tenang lagi obat Dumolid," imbuh dr Andri.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Thursday, August 3, 2017

Punya Kerabat Pengguna Narkoba? Begini yang Sebaiknya Anda Lakukan menurut Psikolog

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta,GARASIhealth - Setiap orang tentu rentan menggunakan narkoba, termasuk para kerabat. Nah, sebelum terlambat ada hal yang bisa Anda lakukan.


Menurut Alexandra Gabriella MPsi Psi Cht, ketika memiliki kenalan atau kerabat yang menggunakan narkoba, Anda dapat mengajak pengguna narkoba untuk bicara baik-baik. Namun, sebelum melakukan itu perlu melakukan observasi terlebih dahulu apakah pengguna sudah sangat terpengaruh narkoba atau belum.


Pasalnya seseorang yang sudah sangat terpengaruh oleh narkoba dikatan Alexa tidak akan sedikit pun peduli dengan lingkungan di sekitar.


"Kalau belum sangat terpengaruh, bisa diajak ngomong baik-baik. Jangan langsung pure dilarang seperti 'Stop, kamu nggak boleh pakai ini' karena bisa membuat dia makin ingin menggunakannya," ucap Alexa saat dihubungi GARASIhealth baru-baru ini.


Lebih lanjut, untuk pengguna narkoba yang masih terkontrol, maka Alexa mencontohnya untuk mengajak pengguna narkoba ngobrol atau bertukar pikiran, seperti 'apa sih yang kamu cari? Apa yang kamu nggak dapet doi rumah sehingga pakai narkoba? Pertimbangkan risiko kalau kamu pakai narkoba, kalau lebih besar risikonya apakah bagus?'.


Selain itu, pengguna narkoba sebaiknya ditanya 'Bagaimana cara atau apa sulitnya meninggalkan narkoba?'. Karena biasanya masyarakat awam tidak paham masalah yang terjadi pada seorang pecandu.


"Dan kalau sudah benar-benar terpengaruh seperti tidak peduli lingkungan dan menjual barang-barang maka kita harus bilang 'stop, jangan!' dan harus dibawa rehabilitasi," pungkas Alexa.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Wednesday, August 2, 2017

Dokter Jiwa: Bandung Darurat Pusat Pencegahan Bunuh Diri

foto: bertha/GARASIhealth

Jakarta,GARASIhealth - Layanan penanganan usaha bunuh diri harus dimiliki oleh Kota Bandung, Jawa Barat. Penyebabnya adalah pada pekan ini telah terjadi dua kali usaha bunuh diri di kota yang dipimpin oleh Ridwan Kamil ini.

Kejadian pertama pada Senin, 24 Juli 2017 di apartemen Gateaway, Cicadas, dua perempuan yang masih satu keluarga melompat dari lantai 5, berakibat meninggal dunia. Sedangkan pada 27 Juli 2017 seorang pria, melompat dari flyover Pasupati, sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi tak berhasil diselamatkan.

Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kejiwaan Indonesia Daerah Jawa Barat Tedy Hidayat, maraknya kasus bunuh diri yang terjadi dalam waktu berdekatan dianggap sebagai kondisi darurat.

"Harusnya Kota Bandung ini ada yang namanya suicide prevention center atau pusat pencegahan usaha bunuh diri. Pusat seperti ini sampai hari ini, juga belum kelihatan meski ada beberapa LSM melakukan itu tapi jangkauannya terbatas," kata Tedy Hidayat, Senin, 1 Agustus 2017.

Tedy Hidayat mengatakan keberadaan pusat pencegahan usaha bunuh diri dianggap penting. Karena dapat melayani konsultasi seseorang yang berencana bunuh diri karena depresi.

Tedy menjelaskan jika orang yang terkena depresi sudah menceritakan keinginan dan masalahnya, maka resiko melakukan bunuh diri pun akan menurun.

"Jadi yang penting biasanya kalau kita bisa komunikasi dengan orang itu. Dengan upaya komunikasi itulah mengajak para korban ini untuk tidak melakukan tindakan itu (bunuh diri)," ujar Tedy.

Untuk menekan percobaan bunuh diri di Kota Bandung, perkumpulannya bersama Palang Merah Indonesia dan LSM tengah merancang sistem pelayanan penanganan usaha bunuh diri.

Teknis pelaksanaannya di lapangan dilakukan sepenuhnya oleh PMI. Layanan tersebut dilengkapi juga dengan call center 119 seperti layanan kesehatan oleh Dinas kesehatan.

"Jika terjadi situasi emergency seperti itu (percobaan bunuh diri), sekitar 10 menit orang kita sudah datang ke lokasi," tambah Tedy.

Dipilihnya PMI untuk menangani langsung kejadian percobaan bunuh diri, karena dianggap telah memiliki kompetensi. Tetapi bisa juga dilakukan oleh petugas polisi yang selama ini kerap kali datang awal di lokasi kejadian.

Sayangnya, belum diketahui kompetensi kepolisian dalam menangani atau bernegosiasi dengan orang - orang yang depresi atau psikotik.

"Mereka kan kan enggak pernah dilatih. Polisi itu tugas globalnya nangkep penjahat tapi nanganin yang depresi atau psikotik barangkali perlu pelatihan lagi," jelas Tedy.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Tuesday, August 1, 2017

Remaja Sekarang Cenderung Tunda Pernikahan, ini kata psikolog

foto: bertha/GARASIhealth

GARASIhealth - Remaja masa kini cenderung menunda pernikahan. Berdasarkan Studi yang dipublikasikan oleh jurnal Archives of Sexual Behavior memaparkan meskipun angka pengguna situs perjodohan dikalangan remaja meningkat, namun angka keinginan untuk menikah justru menurun.


Salah satu penyebab lainnya adalah, menurunnya aktivitas seksual di kalangan remaja. Tidak hanya itu, seorang psikolog dari San Diego State University, Jean Twenge, menjelaskan bahwa aktivitas remaja masa sekarang tidak seaktif dan sesering remaja di generasi 60. Terbukti dengan tingginya angka remaja masa sekarang yang tidak melakukan aktivitas seksual, di mana studi menilai melalui aktivitas seksual terakhir yang dilakukan dalam 12 bulan terakhir.


Hal tersebut terjadi karena besarnya kemungkinan remaja yang belum siap memasuki dunia dewasa dan menikah. Sebuah studi di tahun 2015 memaparkan keinginan menikah remaja sekarang, mulai dipikirkan saat nanti beranjak usia 27 untuk wanita dan 29 untuk lelaki.


Padahal, di tahun 1960, keinginan remaja untuk menjalani dan memasuki masa pernikahan dimulai saat usia 23 untuk lelaki dan 20 untuk wanita. Pemikiran untuk mengundurkan usia pernikahan tersebut, dicanangkan karena banyaknya hal yang telah berubah, seperti dilansir dari laman GARASIhealth.


Di 2013, tercatat hanya 26 persen dari remaja yang menikah diantara usia 18 hingga 32 tahun. Perbandingannya jelas terlihat menurun, di mana di tahun 1997 sebanyak 36 persen yang menikah si usia tersebut serta 48 persen mengalami kehamilan diluar pernikahan.


Kemungkinan besar pernyebabnya ada dua hal yakni, mulai terjadi perubahan pada peran para kaum wanita untuk mulai memikirkan masa-masa kehamilannya kelak. Selain itu, ekonomi suatu negara juga memainkan peran dalam keputusan remaja untuk mengundurkan usia pernikahannya.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Ketika Anak Bau Kencur Mulai Pacar-pacaran, Ini Kata Psikolog

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta,GARASIhealth - "Kemarin aku 'ditembak' anak cowok di kelas aku," ujar seorang siswa kelas 5 SD. Jika tembakan diterima, maka mereka pun resmi pacaran. Soal pacar-pacaran di kalangan anak bau kencur yang masih berseragam putih merah atau putih biru, mungkin sudah lama didengar. Apakah anak dewasa terlalu cepat?


Fenomena cinta-cintaan di kalangan anak-anak juga terlihat di tayangan sinetron televisi. Tayangan itu seolah menegaskan bahwa fenomena anak-anak pacaran memang nyata. Apakah sinetron mendorong anak-anak kecil untuk berani berkata cinta pada lawan jenisnya?


"Ya, ini seperti telur dulu atau ayam dulu ya. Sinetron bisa jadi iya. Tapi bisa jadi juga begini dilihat bahwa ada fenomena di masyarakat yang menampilkan perilaku anak-anak sekolah berpacaran, lalu dibuatlah film atau sinetron dari fenomena itu. Atau bisa juga karena memang sinetron dulu yang sudah ada, jadi sinetron yang memulainya, lalu dicontoh oleh anak-anak," tutur psikolog Roslina Verauli saat dihubungi oleh GARASIhealth dan ditulis pada Kamis (29/1/2015).


Perempuan yang akrab disapa Vera itu menyampaikan anak-anak yang belum memasuki masa pubertas memang tahu istilah pacaran. Akan tetapi sebetulnya kemampuan berpikir anak tentang berpacaran itu belum memadai.


Dikatakan juga oleh Vera bahwa kemampuan berpikir anak soal berpacaran belum sampai pada tipe cinta ala romantis. "Mereka tahu dan mendengar istilah itu, tapi masalahnya anak paham nggak? Ngerti betul nggak dia?" kata Vera.


Pemahaman anak soal berpacaran itu bisa saja keliru. "Anak bisa saja berpikir bahwa yang namanya pacar itu teman duduk aku. Pacar itu yang suka kasih aku hadiah. Pacar itu teman dekat aku, dan lain-lain," jelas Vera.


Ketika beranjak remaja dan mengalami pubertas, akan muncul hasrat seksual, pikiran romantis, mulai tertarik pada lawan jenis, dan lain-lain. Hal ini muncul karena pengaruh hormon. Remaja pun tertarik dengan perubahan fisik. Ini yang kemudian menjadikan pacaran dibumbui hal-hal yang dirasa romantis. Tapi hati-hati agar pacaran tidak membuat anak terjebak dalam pergaulan bebas. Bahwa perlu ditanamkan pacaran bukan memiliki seutuhnya sehingga mereka bisa bertindak layaknya suami istri.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Monday, July 31, 2017

Psikolog: Pelaku "Bullying" Jangan Langsung Dikeluarkan dari Sekolah

foto: bertha/GARASIhealth

Jakarta,GARASIhealth - Psikolog konseling Muhammad Iqbal menyayangkan keputusan Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat, mengeluarkan sembilan siswa SD dan SMP terkait perundungan (bullying) di Thamrin City.

Menurut Iqbal, seharusnya ada tahapan dari pihak sekolah bersangkutan dalam pemberian sanksi kepada anak didiknya yang menjadi pelaku perundungan.

"Menurut saya, yang harus dilakukan (pelaku) dipanggil, diminta klarifikasi, diminta meminta maaf. Mengajarkan kepada anak didik untuk meminta maaf jika berbuat kesalahan," kata Iqbal ditemui usai acara diskusi, Jakarta, Minggu (30/7/2017).

"Orang hukum saja ada proses pengadilan kok. Masa sekolah tidak ada proses?" tambah Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana itu.

Iqbal menilai, mengeluarkan pelaku perundungan dari sekolah merupakan tindakan yang tidak mendidik anak untuk memperbaiki perilaku mereka yang keliru.

Bahkan, menurut Iqbal, sanksi tersebut malah tidak akan dirasakan efek jeranya bagi pelaku yang berasal dari keluarga kaya.

Sebab, mereka bisa jadi merasa tenang-tenang saja dikeluarkan dari sekolah, karena menganggap selama masih ada uang, pasti akan mendapatkan sekolah. Berapapun seringnya dikeluarkan dari sekolah.

"Tetapi kalau terjadi pada anak miskin, ini kasihan sekali," kata Iqbal.

"Kalau anak miskin dikeluarkan, sementara dia sangat membutuhkan pendidikan, itu akan menjadi masalah baru," ucap Iqbal.

Ia menambahkan, bisa jadi seorang anak melakukan perbuatan merundung teman sekolahnya karena ikut-ikutan.

Di lain pihak, bimbingan konseling di sekolah tidak berjalan.
"Harusnya para guru memberikan konseling. 'Kenapa (nak)?. Jangan berbuat lagi, ya.' Harus ada peringatan-peringatan. Ada tahapan. Karena dikeluarkan belum tentu membuat mereka jera," pungkas Iqbal.

Sebelumnya, beredar video di media sosial yang menunjukkan aksi kekerasan yang dilakukan sejumlah anak berseragam sekolah.

Video berdurasi 50 detik itu menunjukkan sejumlah siswa SMP sedang mengelilingi satu siswi yang menggunakan seragam putih.

Siswi berseragam putih itu mendapat kekerasan dari sejumlah siswa-siswi lainnya. Tak ada perlawanan yang dilakukan siswi berseragam putih itu.

Pada akhir video, siswi tersebut disuruh mencium tangan siswa dan siswi yang mem-bully-nya.

SUMBER : WWW.GARASIGAMING.COM

Sunday, July 30, 2017

Efektifkah Kebijakan Belajar 8 Jam Sehari? Ini Kata Psikolog

foto: bertha/GARASIhealth

GARASIhealth - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy baru-baru ini menetapkan kebijakan delapan jam belajar dengan lima hari sekolah. Rencananya, kebijakan ini akan mulai diterapkan pemerintah pada tahun ajaran 2017/2018 mendatang.

Memang, melalui kebijakan ini, anak akan mendapatkan libur dua hari pada Sabtu dan Minggu. Tapi, apakah kebijakan ini efektif diterapkan bagi anak-anak sekolah?

Disampaikan psikolog Ayoe Sutomo, jika delapan jam belajar ini hanya dilakukan di kelas, maka dikhawatirkan justru dapat membuat anak bosan, lelah dan kehilangan ruang bergerak. Pada gilirannya, hal ini menyebabkan stimulasi motorik anak terganggu dan penyerapan pelajaran tidak berlangsung efektif.

Untuk menghindari hal ini, Ayoe mengimbau agar guru nantinya dapat memilih aktivitas yang sesuai, agar delapan jam belajar akan menyenangkan bagi anak. Sebab, ketika anak merasa senang saat belajar, maka penyerapan pelajaran pun menjadi lebih efektif.

"Kalau membosankan, itu hanya membuat anak lelah, dan yang diajarkan tidak akan terserap sempurna oleh anak," ujar Ayoe pada acara temu media di Jakarta, Sabtu (29/7/2017).

Ayoe juga berpesan kepada orangtua agar tidak berekspektasi lebih terhadap buah hatinya. Apalagi mengingatkannya untuk kembali belajar sepulang sekolah, karena hal ini akan menambah beban anak yang membuatnya tak bersemangat untuk sekolah.

"Ketika libur yang dua hari itu (Sabtu-Minggu), jadikan itu sebagai hari istimewa bersama anak. Bisa diisi dengan kegiatan yang mempererat ikatan emosi dengan anak, seperti memasak bareng, nyuci mobil bareng, atau bikin craft gitu. Jadi jangan terus disuruh belajar, karena anak sudah terlalu lelah di sekolah delapan jam setiap hari," pungkas dia.


Saturday, July 29, 2017

Hasil Riset Psikolog Tentang Dibalik Perilaku Otak Manusia

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta, GARASIhealth - Altruisme merupakan perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Biasanya orang tersebut sangat peduli akan kesulitan orang lain dan tanpa pamrih memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Sebuah studi baru yang membahas mengenai konektivitas otak telah menemukan cara untuk mengetahui apakah sifat altruisme seseorang itu terjadi atas suatu dorongan atau keinginan dari dirinya sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut, Psikolog dan Neuroekonomi Grit Hein dan Ernst Fehr dari Departemen Ekonomi, Universitas Zurich telah menemukan, bahwa keselarasan spesifik jaringan saraf di otak manusia mengungkapkan motif sebenarnya dibalik pilihan perilaku tertentu.

Untuk mengetahu sistem kerjanya, ia pun menjelaskan bahwasanya, awalnya, peserta ditempatkan dalam ‘scanner’ fungsional magnetic resonance imaging (fMRI) saat melakukan keputusan altruistik.

Lalu skenario berlanjut pada sebuah pilihan yang dikendalikan oleh empati seperti keinginan untuk membantu orang untuk siapa?. Atau dengan motif timbal balik seperti keinginan untuk membalas kebaikan dari seseorang sebelumnya.

Meskipun keputusan yang didorong oleh motif yang berbeda, hasil fMRI kembali sama.
Namun, dengan menggunakan analisis Dinamis kausal Modelling (DCM), para peneliti mampu menyelidiki interaksi antara daerah otak yang berbeda dan menyoroti setiap perubahan konektivitas otak.

Hasil DCM menunjukkan perbedaan yang luar biasa . Dalam sinyal otak manusia, terdapat hubungan antara empati dan keputusan hubungan timbal balik yang dikendalikan.

Kemudian Grit Hein kembali menjelaskan, bahwa “Pengaruh dari motif pada interaksi antara daerah bagian otak yang berbeda begitu fundamental. Ini dapat digunakan untuk mengklasifikasikan motif seseorang dengan akurasi yang tinggi,” ujarnya, seperti dilansir laman GARASIhealth.

Kemudian penyelidikan lebih lanjut juga menemukan, bahwa apa yang memotivasi pilihan altruistik berbeda pada orang egois dan prososial.

Pada orang yang didominasi mementingkan diri sendiri motif empati meningkatkan perilaku altruistik, sementara timbal balik memiliki dampak yang kecil.

Sementara orang prososial, yang biasanya memiliki keinginan untuk membantu orang lain, bersikap lebih ‘altruistically’ ketika termotivasi oleh kebaikan bukan oleh empati.



Berhenti Percaya pada 3 Mitos Stres Ini

foto: bertha/GARASIhealth Jakarta,GARASIhealth - Stres memang tak memandang usia dan jenis kelamin, tapi tak seharusnya Anda percaya...