Showing posts with label pencegahan bunuh diri. Show all posts
Showing posts with label pencegahan bunuh diri. Show all posts

Wednesday, August 2, 2017

Dokter Jiwa: Bandung Darurat Pusat Pencegahan Bunuh Diri

foto: bertha/GARASIhealth

Jakarta,GARASIhealth - Layanan penanganan usaha bunuh diri harus dimiliki oleh Kota Bandung, Jawa Barat. Penyebabnya adalah pada pekan ini telah terjadi dua kali usaha bunuh diri di kota yang dipimpin oleh Ridwan Kamil ini.

Kejadian pertama pada Senin, 24 Juli 2017 di apartemen Gateaway, Cicadas, dua perempuan yang masih satu keluarga melompat dari lantai 5, berakibat meninggal dunia. Sedangkan pada 27 Juli 2017 seorang pria, melompat dari flyover Pasupati, sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi tak berhasil diselamatkan.

Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kejiwaan Indonesia Daerah Jawa Barat Tedy Hidayat, maraknya kasus bunuh diri yang terjadi dalam waktu berdekatan dianggap sebagai kondisi darurat.

"Harusnya Kota Bandung ini ada yang namanya suicide prevention center atau pusat pencegahan usaha bunuh diri. Pusat seperti ini sampai hari ini, juga belum kelihatan meski ada beberapa LSM melakukan itu tapi jangkauannya terbatas," kata Tedy Hidayat, Senin, 1 Agustus 2017.

Tedy Hidayat mengatakan keberadaan pusat pencegahan usaha bunuh diri dianggap penting. Karena dapat melayani konsultasi seseorang yang berencana bunuh diri karena depresi.

Tedy menjelaskan jika orang yang terkena depresi sudah menceritakan keinginan dan masalahnya, maka resiko melakukan bunuh diri pun akan menurun.

"Jadi yang penting biasanya kalau kita bisa komunikasi dengan orang itu. Dengan upaya komunikasi itulah mengajak para korban ini untuk tidak melakukan tindakan itu (bunuh diri)," ujar Tedy.

Untuk menekan percobaan bunuh diri di Kota Bandung, perkumpulannya bersama Palang Merah Indonesia dan LSM tengah merancang sistem pelayanan penanganan usaha bunuh diri.

Teknis pelaksanaannya di lapangan dilakukan sepenuhnya oleh PMI. Layanan tersebut dilengkapi juga dengan call center 119 seperti layanan kesehatan oleh Dinas kesehatan.

"Jika terjadi situasi emergency seperti itu (percobaan bunuh diri), sekitar 10 menit orang kita sudah datang ke lokasi," tambah Tedy.

Dipilihnya PMI untuk menangani langsung kejadian percobaan bunuh diri, karena dianggap telah memiliki kompetensi. Tetapi bisa juga dilakukan oleh petugas polisi yang selama ini kerap kali datang awal di lokasi kejadian.

Sayangnya, belum diketahui kompetensi kepolisian dalam menangani atau bernegosiasi dengan orang - orang yang depresi atau psikotik.

"Mereka kan kan enggak pernah dilatih. Polisi itu tugas globalnya nangkep penjahat tapi nanganin yang depresi atau psikotik barangkali perlu pelatihan lagi," jelas Tedy.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Saturday, July 22, 2017

Saat Sahabat Bilang Mau Bunuh Diri, Ini yang Harus Dilakukan

(foto: bertha/GARASIhealth)


Jakarta, GARASIhealth - Orang yang depresi bisa saja terpikir untuk bunuh diri. Hal ini karena begitu banyak emosi yang terkumpul dan membuatnya semakin tertekan. Padahal, dengan bercerita, ini bisa mengurangi risiko tindak bunuh diri.
Menurut Benny Prawira, SPsi, ketua komunitas pencegahan bunuh diri, Into The Light, saat ditemui GARASIhealth beberapa waktu lalu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang untuk mencegah upaya melukai diri sendiri oleh orang-orang sekitar. Salah satu caranya adalah dengan untuk belajar lebih peka.
"Ketika kita berasumsi bahwa mereka pengen mati banget atau mereka justru main-main mau mati, nggak. It's not about the death itself. Dia pengen escapedari rasa sakitnya," ujar pria lulusan jurusan psikologi Universitas Bunda Mulia tersebut.
Menurutnya, kita harus mencari tahu apa yang menjadi penyebab rasa sakit orang yang akan melakukan upaya bunuh diri ini. Setelahnya, kita harus mencoba untuk mendengarkan apa yang ia rasakan.
Jika ia sudah puas bercerita mengenai segala macam kepedihan yang ada, berikan ia motivasi agar tetap semangat menjalani kehidupan. "Rasa sakit itu yang harus kita hubungkan ke sumber yang membuat dia bertahan hidup sehingga dia menjadi survive," terangnya.
Namun masalahnya, menurut pria yang tergabung dalam Youth Advisory Board dari National Center for The Prevention of Youth Suicide tersebut, seringkali kita melihat masalah yang dialami orang secara moralis atau dalam perspektif yang sempit, sehingga kita tidak bisa masuk ke dalam perspektif seseorang.
"Kita ga memahami rasa sakitnya. Yang kita pahami cuma satu, 'gue ga nyaman denger dia ngomong gini'," ujar pria yang akrab disapa Benny ini.
Akhirnya banyak orang yang hanya sekedar memberikan nasihat atau terkadang malah diledek. "Yang mereka butuhkan cuma didengarkan kok," pungkasnya.
Namun, apabila kita merasa sahabat kita membutuhkan tenaga profesional untuk mengatasi kegelisahan yang ada, kita juga harus tetap memperhatikan kesiapan orang tersebut agar membuat orang tersebut tetap merasa nyaman. Jangan pernah berjanji untuk tidak pernah membawa tenaga ahli untuk menolongnya.


Berhenti Percaya pada 3 Mitos Stres Ini

foto: bertha/GARASIhealth Jakarta,GARASIhealth - Stres memang tak memandang usia dan jenis kelamin, tapi tak seharusnya Anda percaya...