Showing posts with label pernyataan psikolog. Show all posts
Showing posts with label pernyataan psikolog. Show all posts

Tuesday, August 1, 2017

Remaja Sekarang Cenderung Tunda Pernikahan, ini kata psikolog

foto: bertha/GARASIhealth

GARASIhealth - Remaja masa kini cenderung menunda pernikahan. Berdasarkan Studi yang dipublikasikan oleh jurnal Archives of Sexual Behavior memaparkan meskipun angka pengguna situs perjodohan dikalangan remaja meningkat, namun angka keinginan untuk menikah justru menurun.


Salah satu penyebab lainnya adalah, menurunnya aktivitas seksual di kalangan remaja. Tidak hanya itu, seorang psikolog dari San Diego State University, Jean Twenge, menjelaskan bahwa aktivitas remaja masa sekarang tidak seaktif dan sesering remaja di generasi 60. Terbukti dengan tingginya angka remaja masa sekarang yang tidak melakukan aktivitas seksual, di mana studi menilai melalui aktivitas seksual terakhir yang dilakukan dalam 12 bulan terakhir.


Hal tersebut terjadi karena besarnya kemungkinan remaja yang belum siap memasuki dunia dewasa dan menikah. Sebuah studi di tahun 2015 memaparkan keinginan menikah remaja sekarang, mulai dipikirkan saat nanti beranjak usia 27 untuk wanita dan 29 untuk lelaki.


Padahal, di tahun 1960, keinginan remaja untuk menjalani dan memasuki masa pernikahan dimulai saat usia 23 untuk lelaki dan 20 untuk wanita. Pemikiran untuk mengundurkan usia pernikahan tersebut, dicanangkan karena banyaknya hal yang telah berubah, seperti dilansir dari laman GARASIhealth.


Di 2013, tercatat hanya 26 persen dari remaja yang menikah diantara usia 18 hingga 32 tahun. Perbandingannya jelas terlihat menurun, di mana di tahun 1997 sebanyak 36 persen yang menikah si usia tersebut serta 48 persen mengalami kehamilan diluar pernikahan.


Kemungkinan besar pernyebabnya ada dua hal yakni, mulai terjadi perubahan pada peran para kaum wanita untuk mulai memikirkan masa-masa kehamilannya kelak. Selain itu, ekonomi suatu negara juga memainkan peran dalam keputusan remaja untuk mengundurkan usia pernikahannya.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Ketika Anak Bau Kencur Mulai Pacar-pacaran, Ini Kata Psikolog

foto: bertha/GARASIhealth


Jakarta,GARASIhealth - "Kemarin aku 'ditembak' anak cowok di kelas aku," ujar seorang siswa kelas 5 SD. Jika tembakan diterima, maka mereka pun resmi pacaran. Soal pacar-pacaran di kalangan anak bau kencur yang masih berseragam putih merah atau putih biru, mungkin sudah lama didengar. Apakah anak dewasa terlalu cepat?


Fenomena cinta-cintaan di kalangan anak-anak juga terlihat di tayangan sinetron televisi. Tayangan itu seolah menegaskan bahwa fenomena anak-anak pacaran memang nyata. Apakah sinetron mendorong anak-anak kecil untuk berani berkata cinta pada lawan jenisnya?


"Ya, ini seperti telur dulu atau ayam dulu ya. Sinetron bisa jadi iya. Tapi bisa jadi juga begini dilihat bahwa ada fenomena di masyarakat yang menampilkan perilaku anak-anak sekolah berpacaran, lalu dibuatlah film atau sinetron dari fenomena itu. Atau bisa juga karena memang sinetron dulu yang sudah ada, jadi sinetron yang memulainya, lalu dicontoh oleh anak-anak," tutur psikolog Roslina Verauli saat dihubungi oleh GARASIhealth dan ditulis pada Kamis (29/1/2015).


Perempuan yang akrab disapa Vera itu menyampaikan anak-anak yang belum memasuki masa pubertas memang tahu istilah pacaran. Akan tetapi sebetulnya kemampuan berpikir anak tentang berpacaran itu belum memadai.


Dikatakan juga oleh Vera bahwa kemampuan berpikir anak soal berpacaran belum sampai pada tipe cinta ala romantis. "Mereka tahu dan mendengar istilah itu, tapi masalahnya anak paham nggak? Ngerti betul nggak dia?" kata Vera.


Pemahaman anak soal berpacaran itu bisa saja keliru. "Anak bisa saja berpikir bahwa yang namanya pacar itu teman duduk aku. Pacar itu yang suka kasih aku hadiah. Pacar itu teman dekat aku, dan lain-lain," jelas Vera.


Ketika beranjak remaja dan mengalami pubertas, akan muncul hasrat seksual, pikiran romantis, mulai tertarik pada lawan jenis, dan lain-lain. Hal ini muncul karena pengaruh hormon. Remaja pun tertarik dengan perubahan fisik. Ini yang kemudian menjadikan pacaran dibumbui hal-hal yang dirasa romantis. Tapi hati-hati agar pacaran tidak membuat anak terjebak dalam pergaulan bebas. Bahwa perlu ditanamkan pacaran bukan memiliki seutuhnya sehingga mereka bisa bertindak layaknya suami istri.

SUMBER: WWW.GARASIGAMING.COM

Berhenti Percaya pada 3 Mitos Stres Ini

foto: bertha/GARASIhealth Jakarta,GARASIhealth - Stres memang tak memandang usia dan jenis kelamin, tapi tak seharusnya Anda percaya...